Minggu, 27 Maret 2016

BANANA PANEL : PANEL LANGIT-LANGIT BANGUNAN DENGAN BAHAN DASAR SERAT PELEPAH BATANG PISANG (SERAT)






BANANA PANEL : PANEL LANGIT-LANGIT BANGUNAN
DENGAN BAHAN DASAR SERAT PELEPAH BATANG PISANG
(SERAT)









Oleh
Lutfi Ilham Pradipta            NIM : F34140030




2015
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR

PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Pisang adalah salah satu komoditas buah unggulan Indonesia. Luas panen dan produksi pisang selalu menempati posisi pertama. Pada tahun 2002 produksinya mencapai 4.384.384 ton (BPS, 2003) dengan nilai ekonomi sebesar Rp 6,5 triliun (Litbang Pertanian 2004). Saat pemanenan pisang bagian pisang yang diambil hanya buahnya saja sedangkan batang dibuang begitu saja. Biasanya batang pisang dibiarkan sampai membusuk dengan sendirinya padahal pelepah batang pisang memiliki kandungan serat kasar yang cukup tinggi.
            Kandungan serat kasar yang tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar papan serat. Papan serat dari batang pisang dapat dibentuk menjadi panel untuk langit-langit bangunan. Pemanfaatan serat pelepah pisang dapat mengurangi penggunaan serat seintetis yang sulit terurai oleh alam dan memanfaatkan limbah pelepah pisang serta meningkatkan pendapatan petani pisang.

Tujuan
            Tujuan pembuatan panel langit-langit bangunan berbahan dasar serat pelepah batang pisang adalah untuk mengurangi penggunaan serat sintetis yang sulit terurai, memanfaatkan limbah pelepah pisang yang selama ini hanya dibuang serta meningkatkan pendapatan petani pisang.


PEMBAHASAN

Nama dan Jenis Produk
Produk yang dikembangkan dalam makalah ini berjudul “Banana Panel : Panel Langit-Langit Bangunan dengan Bahan Dasar Serat Pelepah Batang Pisang”. Serat pelepah pisang merupakan serat alami yang didapatkan dari pelepah batang pisang yang sudah tua dan sudah dipanen buahnya. Serat dari pelepah pisang diproses menjadi papan serat yang ringan tetapi kuat sehingga bisa digunakan sebagai panel untuk menutupi langit-langit di dalam bangunan.

Sifat-Sifat Produk
Panel langit-langit bangunan dari pelepah pisang merupakan panel yang ringan karena sifat serat pelepah pisang yang ringan. Penambahan bahan resin dan semen akan mengikat serat-serat di pelepah pisang sehingga dapat memberikan kekuatan pada panel (Tavanlar 2014).  Selain itu panel dari pelepah pisang juga murah karena biasanya pelepah dari batang pisang yang sudah dipanen buahnya hanya dibuang dan tidak dimanfaatkan.

Bahan Baku
Bahan baku produk ini adalah serat pelepah batang pisang dari pohon pisang yang sudah dipanen buahnya. Serat diambil dari batang semu pisang. Batang semu yaitu pelepah daun panjang yang saling menelungkup dan menutupi dengan kuat dan kompak sehingga bisa berdiri tegak seperti batang tanaman. Tinggi batang semu berkisar 3,5-7,5 meter tergantung jenis pisang (Satuhu S dan Supriyadi A 1992).

Serat merupakan bagian yang memiliki panjang jauh lebh besar daripada lebar atau diameternya. Batang pisang memiliki bobot jenis 0,29 g/cm3 dengan ukuran panjang serat 4,20 – 5,46 mm dan kandungan lignin 33,51% (Syafrudin, 2004). Rahman (2006) menyatakan bahwa perbandingan bobot segar antara batang, daun, dan buah pisang berturut-turut 63, 14, dan 23%.

Gambar 1. Pelepah batang pisang yang sudah dikupas dari batangnya
serta dikeringkan

Teknologi Proses Produksi
Pelepah batang pisang dikupas dan dipisahkan. Pelepah lalu dijemur untuk menghilangkan kandungan air. Untuk memisahkan serat dengan kandungan bahan lain pelepah dikerok menggunakan bambu sampai terlihat benang-benang yang merupakan serat pelepah. Serat tersebut kemudian dipotong dengan ukuran ± 5 cm.
Metode pembuatan panel adalah dengan pembuatan komposit PVC-CaCO3 . Bahan komposit yang terdiri atas serat pelepah batang pisang, PVC, DOP, epoksi, Ba Cd Zn, resin, semen dan asam stearat dicampur di dalam mixer sampai rata (15 menit), selanjutnya untuk menjadikan campuran lebih homogen digunakan mesin Two Roll Mill pada suhu 50oC (5 ulangan) dengan kecepatan perputaran roll 50 rpm (Supraptiningsih 2012). Setelah homogen bahan dicetak dan diberi tekanan agar didapatkan panel yang kuat.

Gambar 2. Berbagai macam panel langit-langit bangunan

Kegunaan/Manfaat Produk
Produk banana panel merupakan produk bahan bangunan untuk panel langit-langit bangunan. Bangunan memerlukan panel penutup langit-langit untuk mencegah debu, kotoran dan air saat hujan yang masuk ke ruangan dari atap. Pnel langit juga berfungsi untuk menambah estetika dan kebersihan ruangan karena atap tidak terlihat secara langsung.
Panel untuk langit-langit bangunan biasanya menggunakan material papan komposit atau serat sintetis. Penggunaan serat pelepah batang pisang dapat mengurangi penggunaan bahan-bahan sintetis dan menambah nilai jual pelepah batang bisang yang biasanya hanya dibuang. Pelepah batang pisang yang memiliki nilai jual lebih akan meningkatkan pendapatan petani pisang.

Potensi Penggunaan & Pasar
Panel langit-langit sekarang ini sudah menjadi bahan bangunan wajib bagi rumah, kantor dan bangunan-bangunan lainnya. Panel berfungsi sebagai pelindung ruangan dari kotoran, air dan benda asing yang dapat jatuh dari atap serta menambah estetika ruangan. Fungsinya yang bukan cuma sebagai pelindung ruang tetapi juga sebagai penghias menjadi alasan banyaknya bangunan yang menggunakan panel.
Bahan dasar dari serat pelepah batang pisang yang murah akan menekan biaya produksi panel. Biaya yang murah tersebut akan meningkatkan permintaan terhadap panel. Masyarakat yang sadar akan pelestarian lingkungan juga akan lebih memilih panel serat dari bahan alami karena akan mudah terurai ketika dibuang. Masyarakat yang sadar akan pentingnya kesejahteraan petani juga akan lebih memilih panel dari serat alami.


PENUTUP

Simpulan
            Serat pelepah batang pisang memiliki sifat-sifat yang sesuai untuk digunakan sebagai bahan dasar papan serat untuk panel langit-langit bangunan. Metode pembuatan papan dengan komposit PVC-CaCO3 digunakan untuk mendapatkan panel yang baik. Serat yang ringan diperkuat dengan penambahan resin dan semen. Pemanfaatan serat pelepah batang pisang selain dapat mengurangi penggunaan serat sintetis juga dapat mengurangi limbah dan meningkatkan pendapatan petani.

Saran
            Serat tumbuhan sangat beragam jenisnya dan sumbernya seperti dari batang tanaman rumput-rumputan, agave, tanaman palem, pandan dll. Serat-serat terebut saat ini masih sederhana penggunaanya. Ada baiknya untuk mencegah penggunaan serat-serat sintetis yang sulit terurai oleh lingkungan serat-serat tumbuhan tersebut dikembangkan lebih lanjut. Pengembangan teknologi pemanfaatan serat tumbuhan dapat membawa produk-produk serat menjadi produk-produk yang ramah lingkungan.

Daftar Pustaka

 

Bagian Penelitian dan Pengembangan Dinas Pertanian. 2004. Prospek dan Arah
Pengembangan Agribisnis Pisang. Jakarta (ID) : Dinas Pertanian RI

 

Rahman, H., 2006. Pembuatan Pulp dari Batang Pisang Uter (Musa paradisiaca
Linn var uter) Pascapanen dengan Proses Soda. Skripsi, Fakultas
Kehutanan.Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Satuhu S dan Supriyadi A. 1992. Pisang : Budidaya, Pengolahan dan Prospek

Pasar. Jakarta (ID) : Penebar Swadaya.

 

Syafrudin, 2004. Pengaruh Konsentrasi Larutan dan Waktu Pemasakan Terhadap
Rendemen dan Sifat Fisis Pulp Batang Pisang Kepok (Musa spp) Pascapanen. Skripsi, Fakultas Kehutanan. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

 

Tavanlar M A. 2014. Wow, Batang Pohon Pisang Bisa Dijadikan Papan Serat

Komposit. http://www.batamtoday.com/berita38640-Wow,-Batang-

Pohon-Pisang-Bisa-Dijadikan-Papan-Serat-Komposit.html.

 

 

 


Lutfi Ilham Pradipta
Agroindustrial Technology
Faculty of Agricultural Technology
Bogor Agricultural University
Bogor - Indonesia

 

ANTI-RICE MOVEMENT



            Rice consumption  in Indonesia is very high, 110-114 kg/capita/year, its far from Asia that just 90 kg, Malaysia 80 kg, and Japan 50 kg. Moreover queer culture is appear, it said that “if you haven’t eat rice, you haven’t eat”. Commonly consumptive culture is appear when Indonesia have successed  make a rice self-sufficient at new orde. All people change this food from corn, sago, casava etc. to rice.
Consumptive culture on rice result in high rice import after rice self-sufficient is failed to be continue. Statistic Center Corporation of Indonesia note during january-august 2015 rice import reached 225.029 ton. Cause of it, important for do a contribution from all side to against consumptive culture on rice.
Many source of carbohydrate except rice like sorgum, corn, sago, casava, potato etc. Should that source can subtitute rice. However, its not easy to change people culture, its need long process. Alternative of solution that can be done is make an anti-rice movement. Educated community, farmers and goverment certain to be an activator on movement.The principal focus on this movement is not direct to change people culutre but minimal it can change thought of people about the dangerous of rice consumptive culture. 


DAFTAR PUSTAKA

Nurbikis M. 2015.  JK: Konsumsi Beras Orang Indonesia di Atas Rata-rata Asia.

http://finance.detik.com/read/2015/03/20/143102/2864707/4/jk-konsumsi-beras-orang-indonesia-di-atas-rata-rata-asia

 

Batampos. 2015. Hingga Agustus Indonesia Impor Beras sebanyak 225.029 ton.

http://batampos.co.id/25-09-2015/hingga-agustus-indonesia-impor-beras-sebanyak-225-029-ton/

Gelatin Ikan : Bahan Baku Pangan Halal yang Potensial di Pasar Bebas MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)


             Seorang muslim dalam memilih bahan makanan pasti mengutamakan kehalalan bahan pangan tersebut. Perkembangan teknologi dalam dunia pangan mengakibatkan banyak produk pangan yang terbuat dari bahan baku yang beraneka ragam. Keberagaman bahan baku pangan tersebut dapat mempersulit pembuktian kehalalan bahan pangan. Sebab itu, penting bagi seorang muslim untuk mengetahui dan dapat menentukan kepastian kehalalan bahan baku pangan dari makanan yang dikonsumsi.
            Gelatin adalah bahan yang banyak digunakan sebagai bahan baku produk pangan. Penggunaan gelatin dalam industri pangan yaitu sebagai bahan baku produk permen, jelly, daging, susu, margarin dan  food suplement. Sifat istimewa dari gelatin adalah serba bisa, yaitu bisa berfungsi sebagai bahan pengisi, pengemulsi (emulsifier), pengikat, pengendap, dan pemerkaya gizi. Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen dari sapi (tulang dan kulit jangat), babi (kulit), dan ikan (kulit) (Hastutie dan Sumpe 207). Konsumsi gelatin di Asia Tenggara seperti di Indonesia cukup besar. Statistik dari bulan januari – desember tahun 2009 menunjukkan impor gelatin sebesar 3.124.225 kg. Gelatin ini diimpor dari Negara China, Jepang, Jerman, Perancis dan Australia (Agustin 2013).
            Proses sertifikasi dan penerbitan sertifikat halal di Indonesia dikeluarkan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia). Negara-negara di dunia juga memiliki lembaga sertifikasi halal sendiri seperti JAKIM (Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) dan IICA (Islamic Information Center of America) (LPPOM MUI 2014). Sertifikat halal yang diberikan pada produk impor berasal dari lembaga sertifikasi halal di negara tempat produk berasal. MUI tidak dapat melakukan audit secara langsung dan kontinyu terhadap proses produksi, bahan baku, dan sistem manajemen perusahaan produsen produk impor. Keterbatasan tersebut dapat mengakibatkan kemungkinan masuknya produk berlabel halal namun sebenarnya tidak memenuhi standar halal menurut MUI.
Sapi merupakan hewan yang halal dikonsumsi jika disembelih sesuai ajaran Islam. Namun, tidak semua RPH (Rumah Pemotongan Hewan) menyembelih sapi sesuai ajaran Islam. Di negara-negara yang penduduk muslimnya minoritas, sapi hanya akan disembelih sesuai ajaran Islam hanya jika ada pemesanan khusus. Gelatin sapi yang diambil dari produk sampingan RPH yaitu tulang dan kulit jangat sapi bisa jadi berasal dari sapi yang tidak disembelih sesuai ajaran Islam. MUI tidak dapat memantau secara langsung sumber bahan baku yang digunakan untuk pembuatan gelatin sehingga sulit mengidentifikasi apakah gelatin sapi yang diimpor merupakan produk yang halal atau tidak.
            Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merupakan realisasi pasar bebas Asia Tenggara yang akan dilaksanakan pada akhir desember 2015. Tujuan dibentuknya MEA adalah untuk meningkatkan stabilitas perekonomian kawasan ASEAN. Salah satu konsekuensi atas kesepakatan MEA tersebut berupa aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN (Suroso 2015). Aliran bebas barang di negara-negara ASEAN memperbesar kemungkinan beredarnya gelatin sapi yang tidak pasti kehalalannya.
            Gelatin ikan merupakan gelatin yang terbuat dari kulit ikan. Bangkai ikan menurut ajaran islam halal selama tidak mengandung racun sesuai yang tertulis dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 96. Produksi perikanan budidaya dunia pada tahun 2013 mencapai 97,2 juta ton. Tahun 2011 kontribusi Indonesia terhadap produksi dunia sebesar 9,5 persen, tahun 2013 kontribusi Indonesia naik menjadi sebesar 13,53 persen (DJPB 2013). Produksi perikanan yang terus meningkat dapat menjadi jaminan keberlanjutan produksi gelatin ikan untuk memenuhi kebutuhan gelatin di Asia Tenggara.
            Gelatin adalah bahan yang banyak terdapat pada produk-produk pangan. Gelatin sapi yang diimpor dari negara dengan jumlah umat muslim minoritas sulit dipastikan apakah merupakan gelatin yang halal atau tidak. Gelatin ikan yang terbuat dari kulit ikan dapat dipastikan kehalalannya. Produksi ikan di negara-negara ASEAN seperti Indonesia yang terus meningkat menjadikan gelatin ikan memiliki potensi yang besar sebagai bahan baku pangan halal di pasar bebas MEA.


DAFTAR PUSTAKA

Agustin A T. 2013. Gelatin Ikan : Sumber, Komposisi Kimia dan Potensi
Pemanfaatannya. Jurnal Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 1 No. 2 : 44 – 46.

[DJPB] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2013. Komoditas Andalan
Indonesia Masuki Jajaran Produsen Ikan Terbesar Dunia.
http://www.djpb.kkp.go.id/index.php/arsip/c/258/KOMODITAS-
ANDALAN-INDONESIA-MASUKI-JAJARAN-PRODUSEN-IKAN-
TERBESAR-DUNIA/?category_id=13 [terhubung berkala]

Hastutie D dan Sumpe I. 2007. Pengenalan dan Proses Pembuatan Gelatin. Jurnal
Ilmu-ilmu Pertanian. Vol. 3. No. 1 : 39-48

Suroso G T. 2015. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Perekonomian
keuangan-umum/20545-masyarakat-ekonomi-asean-mea-dan-
perekonomian-indonesia [terhubung berkala]

Dari Swasembada Beras Menjadi Swasembada Pangan



Pada Mei 2013 stok beras mencapai 2,6 juta ton dan produksi gabah nasional meningkat 5%. Menteri Pertanian Dr. Suswono optimis Indonesia tidak perlu impor beras pada akhir tahun 2013 karena tahun 2012 produksi gabah sebesar 69 ton, diatas target Kementan 67 ton. Namun pada faktanya sampai bulan september pun impor masih terus dilakukan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Senin (4/11/2013) jika diakumulasi selama 9 bulan (Januari-September), impor sudah mencapai 353.485 ton atau US$ 183,3 juta. Beras impor terbesar berasal dari Vietnam, India, Thailand dan Pakistan.
Sampai saat ini Indonesia masih mempertahankan peringkatnya sebagai konsumen beras terbesar di Dunia. Konsumsi beras di Indonesia mencapai 140 kilogram per orang per tahun, sedangkan Thailand dan Malaysia hanya 70 kilogram per orang per tahun. Berita tentang beras impor ilegal dari Vietnam pada awal 2014 yang masih hangat diperbincangkan menjadi bukti bahwa Indonesia belum bisa menciptakan swasembada beras. Indonesia menjadi pasar yang empuk bagi negara-negara yang mengalami surplus produksi beras.
            Penyebab ketergantungan Masyarakat Indonesia terhadap beras dewasa ini adalah kesuksesan swasembada beras pada masa Orde Baru. Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984 dan ia dianugerahi sebuah medali bertuliskan ”from rice importer to self sufficiency” dari Food and Agriculture Organization (FAO). Pemerintahan Presiden Soeharto berhasil mengatasi gejolak ekonomi yang luar biasa dimana inflasi mencapai 650% pada tahun 1966 dan mengubah Indonesia dari Negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi Negara pengekspor beras terbesar di Dunia. Keberhasilan swasembada beras ini memicu masyarakat dari berbagai daerah seperti Madura, Sulawesi, Maluku, NTT, NTB, dan Papua mensubstitusi makanan pokok mereka seperti jagung, sagu dan umbi-umbian menjadi beras. Namun swasembada beras ini tidak bertahan lama pada masa-masa akhir orde baru krisis pangan dan ekonomi mulai bergejolak kembali sedangkan masyarakat yang sudah telanjur mensubstitusi makanan pokoknya menjadi beras sulit untuk kembali ke makanan pokok sebelumnya karena memang menurut lidah Indonesisa beras lebih enak daripada makanan pokok lainnya. Alhasil ketika produksi beras tidak mampu mencukupi permintaan pemerintahpun harus mengimpor beras.
Lidah Jawa terbiasa makan nasi, lidah Papua terbiasa makan ubi dan sagu, lidah Madura terbiasa makan jagung, lidah Amerika terbiasa makan gandum dan kentang, lidah Mesir terbiasa makan gandum, lidah Brazil dan Afrika terbiasa makan ketela, lidah Meksiko terbiasa makan jagung, maka mereka akan terus terbiasa makan makanan tersebut. Makanan tersebut sudah masuk menjadi budaya sehari-hari mereka. Namun budaya itu juga bukan tidak mungkin untuk diubah. Jika masyarakat indonesia terbiasa makan berbagai jenis makanan pokok bukan hanya beras maka mereka akan terbiasa makan makanan pokok tersebut, berbagai jenis makanan pokok akan masuk menjadi bagian budaya mereka dan terciptalah swasembada pangan.
Berbagai olahan makanan pokok olahan nonberas dapat dijadikan sebagai pengganti makanan pokok olahan beras seperti beras analog yang berbahan dasar seperti sorgum, jagung, sagu dan singkong yang dikembangkan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jember. Sagu dan jagung mempunyai indeks glikemik yang rendah. Indeks glikemik adalah dampak makanan terhadap kadar gula darah. Indeks glikemik yang rendah membuat beras analog menyehatkan dan baik bagi penderita diabetes. Protein beras analog juga lebih tinggi dari beras yaitu 12 persen sedangkan beras hanya 6-8 persen. Mi ayam yang terbuat dari singkong yang dikembangkan IPB juga bisa juga menjadi alternatif bahan pangan karena mi ayam juga sangat diminati masyarakat indonesia. Mi sabuke (sayur, buah dan keju) juga bisa menjadi alternatif bahan makanan pokok untuk menggantikan beras.
Kesadaran tentang pentingnya swasembada pangan mungkin sudah banyak didengar oleh masyarakat. Namun langkah nyata masyarakat masih belum terlihat dalam skala besar. Harus ada sosialisasi dan pelatihan tentang cara pembuatan makanan-makanan tersebut agar secara nyata dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat bukan hanya kalangan para peneliti yang menciptakan produk terrsebut.
Fokus utama dalam sosialisasi dan pelatihan adalah kalangan ibu dan pemilik bisnis makanan karena kalangan ibulah yang mengolah makanan pokok dalam lingkup keluarga dan makanan yang dijual di pasaranlah yang banyak dikonsumsi masyarakat. Di setiap keluarga dan usaha bisnis makanan perlu diberikan sosialisasi cara pengolahan makanan pokok nonberas dan penting juga untuk dibantu dalam pengadaan fasilitas berbagai alat yang dibutuhkan dalam pengolahan makanan tersebut. Pemerintah harus mencanangkan program swasembada pangan dengan mengincar kalangan ibu dan pemilik bisnis makanan. Jika semua ibu dan pemilik bisnis makanan terdidik dan terlatih untuk mengolah makanan nonberas yang disukai keluarga dan masyarakat swasembada pangan akan mudah dicapai.
Contoh nyata yang bisa ditiru adalah kebijakan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail. Melalui SKnya dia memerintahkan para pemilik warung di sekitar kantor wali kota untuk menjual makanan pokok nonberas setiap hari selasa. Programnya dikenal dengan nama “One Day No Rice”. Untuk bisa menyentuh kalangan ibu dan pemilik bisnis di pusat kota sampai pelosok desa diperlukan lebih banyak pemimpin seperti Nur Mahmudi Ismail. Pemerintah pusat harus secara tegas mendukung dan melaksanakan secara luas apa yang telah dilakukan Walikota Depok untuk mendukung swasembada pangan.
Kalangan ibu dan pemilik bisnis makanan yang bisa menyediakan secara terus menerus makanan pokok nonberas yang disukai masyarakat akan membuat permintaan akan makanan pokok nonberas meningkat. Konsumsi beras otomatis akan turun dan swasembada beras akan tercapai. Swasembada beras belum tentu memastikan ketahanan pangan akan tercapai. Namun swasembada pangan yang dilakukan akan secara otomatis membantu terciptanya swasembada beras dan secara pasti akan menciptakan ketahanan pangan. Oleh sebab itu program swasembada beras yang dahulu dibanggakan sekarang harus secara nyata dan total diganti dengan program swasembada pangan.

DAFTAR PUSTAKA


Tunggal Nawa. 2013. 60 Inovasi Pilihan KOMPAS. Jakarta: Buku Kompas.

  
Indonesia harus keluar dari jebakan swasembada beras. http://agrimedia.mb.ipb.ac.id/archive/viewAbstrakArchive?id=f7e4d153adc2a2e0de70cfb4484e9323
 
Indonesia Masih Terus Impor Beras, Sebulan Capai Rp 306 miliar. http://finance.detik.com/read/2013/11/04/072835/2402776/4/indonesia-masih-terus-impor-beras-sebulan-capai-rp-306-miliar